NTT

Produksi Padi NTT Turun 0,69 Persen

L Ng Mbuhang | 5 Agustus 2026, 16:50 WIB
 Produksi Padi NTT Turun 0,69 Persen
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT, Joaz Bily Oemboe Wanda

AKURAT.CO Produksi padi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) periode Januari–September 2026 tercatat turun 0,69 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini terjadi meski luas tanam dan luas panen justru mengalami peningkatan.

Data Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi padi NTT turun dari 783.494,9 ton gabah kering giling (GKG) pada Januari–September 2025 menjadi 778.051,6 ton GKG pada periode yang sama tahun 2026. Selisihnya mencapai 5.443,3 ton atau turun 0,69 persen.

Sementara itu, luas panen meningkat 2,96 persen, dari 172.637,9 hektare menjadi 177.752,7 hektare, atau bertambah 5.114,8 hektare.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Joaz Bily Oemboe Wanda, saat ditemui AKURAT.CO di ruang kerjanya, Rabu (5/8/2026) menjelaskan, secara logika kenaikan luas tanam dan luas panen seharusnya diikuti peningkatan produksi. Karena itu, pihaknya masih melakukan konsolidasi data bersama BPS dan pemerintah kabupaten untuk memastikan penyebab turunnya angka produksi.

"Kalau dibandingkan tahun lalu, luas tanam dan luas panen kita meningkat. Karena itu kami masih melakukan verifikasi data di daerah-daerah sentra produksi. Awalnya selisih produksi tercatat sekitar 15 ribu ton, sekarang sudah menyusut menjadi sekitar 5 ribu ton setelah ada pembaruan data," ujarnya.

Menurut dia, salah satu faktor yang memengaruhi sementara ini adalah proses penyesuaian sistem pelaporan setelah tenaga penyuluh pertanian beralih menjadi kewenangan pemerintah pusat. Kondisi tersebut dinilai memengaruhi kecepatan konsolidasi data antara penyuluh, pemerintah kabupaten, dan BPS.

Selain faktor administrasi, kata Joaz Oemboe Wanda, mengatakan penurunan produksi juga dipengaruhi serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), terutama penggerek batang padi di sejumlah sentra produksi seperti Kabupaten Nagekeo. Curah hujan yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya menyebabkan kelembapan meningkat sehingga memicu berkembangnya hama.

"Kami menemukan adanya serangan penggerek batang di wilayah Mbay dan beberapa daerah sentra produksi lainnya. Ini ikut memengaruhi produktivitas," katanya.

Dinas Pertanian juga mencatat produktivitas padi gogo masih jauh di bawah padi sawah. Produktivitas padi gogo rata-rata hanya sekitar 1,5 ton per hektare, sedangkan padi sawah mencapai sekitar 4,5 ton per hektare. Hal ini ikut memengaruhi total produksi ketika sampel pengamatan BPS banyak berada di lahan padi gogo.

Di sisi lain, keterbatasan pupuk bersubsidi juga menjadi tantangan. Pemerintah Provinsi NTT mengusulkan kebutuhan pupuk sekitar 10 persen dari total kebutuhan daerah, namun alokasi yang diterima hanya sekitar 5 persen sesuai kuota nasional.

Meski demikian, pemerintah memastikan berbagai program peningkatan produksi terus berjalan. Dukungan dari Kementerian Pertanian melalui optimasi lahan (Oplah), pembangunan jaringan irigasi tersier, irigasi perpompaan, hingga brigade alat dan mesin pertanian dinilai berhasil meningkatkan luas tanam dan luas panen pada tahun ini.

Beberapa daerah menjadi penyumbang kenaikan luas panen terbesar, yakni Manggarai Timur yang naik 1.123,3 hektare (8,75 persen), Kabupaten Kupang bertambah 954,1 hektare (6,61 persen), Malaka naik 679,3 hektare (12,41 persen), Rote Ndao bertambah 694,4 hektare (6,12 persen), dan Sumba Barat Daya meningkat 533,7 hektare (4,09 persen).

Namun demikian, sejumlah daerah masih mengalami penurunan produksi cukup signifikan. Di antaranya Sumba Tengah turun 15,70 persen, Belu turun 15,66 persen, Flores Timur turun 18,61 persen, Sikka turun 13,80 persen, serta Timor Tengah Utara turun 8,57 persen.

Meski produksi sementara masih menurun, Dinas Pertanian optimistis angka tersebut dapat membaik setelah proses validasi data selesai dan panen pada akhir tahun masuk dalam perhitungan.

"Pekerjaan kami sekarang memastikan seluruh data dari kabupaten sudah terverifikasi. Harapannya, selisih produksi tidak semakin besar karena secara riil luas tanam dan luas panen kita memang meningkat," kata Joaz Oemboe Wanda menambahkan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

L
Reporter
L Ng Mbuhang
L