NTT

Kekeringan Mengancam Pulau Semau - NTT, Sumur Kering, Warga Beli Air Tangki

Jermi Lau | 3 September 2026, 14:26 WIB
Kekeringan Mengancam Pulau Semau - NTT, Sumur Kering, Warga Beli Air Tangki
Morifali Mesakh, Camat Semau

AKURAT.CO - Kekeringan mulai melanda pulau Semau Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Warga sejumlah desa di Kecamatan Semau kini mulai merasakan dampak kekeringan.

Sumur gali, sumur bor dan sejumlah sumber air alami yang selama ini menjadi sumber air kini mengering, debit air terus menurun. Kondisi itu memaksa warga untuk membeli air tangki untuk memenuhi kebutuhan air mereka.

Camat Semau, Morifali Messakh kepada akurat.co, Kamis (3/9) menyampaikan data lapangan yang dihimpun, ketersediaan air di Kecamatan Semau secara umum mengalami tekanan yang ditandai dengan terus menurunnya debit pada berbagai sumber air di desa-desa.

Kondisi tersebut terlihat antara lain di desa Batuinan dengan jumlah penduduk 401 jiwa. Di desa itu terdapat satu sumur bor berkedalaman 28 meter telah kering dan empat sumur gali hampir tidak dapat digunakan, sehingga kebutuhan air masyarakat bergantung pada air tangki yang dibeli dengan harga Rp 200.000 per tangki berkapasitas 5.000 liter.

Di desa Uitao yang dihuni 930 jiwa ungkap camat Morifali, terdapat 8 sumur bor, 64 sumur gali dan 1 mata air, namun seluruh sumber tersebut mengalami penurunan debit dan sebagian besar keluarga mulai menggunakan air tangki.

Di desa Bokonusan, ada satu sumber air dan 6 sumur gali yang juga mengering. Ada tiga Cekdam di wilayah desa itu namun air dari Cekdam itu lebih banyak dimanfaatkan untuk aktivitas pertanian, sehingga belum menjadi cadangan utama untuk kebutuhan air rumah tangga.

"Di Bokonusan hampir semua penduduk bergantung air tangki karena sumber air embung hanya bisa digunakan untuk aktifitas pertanian. Di Uiasa itu masih sekitar 30-an KK di dusun 5 Kulun masih menggunakan air tangki dengan harga Rp 225.000 sampai Rp 250.000 per tengki," ungkapnya.

Sementara itu di desa Otan tambah camat Morifali, terdapat 11 sumur bor namun sebagian besar dimanfaatkan untuk aktivitas pertanian, sementara untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat masih mengandalkan layanan PAM yang baru menjangkau sekitar 50% kepala keluarga yang ada. sedangkan sebagian masyarakat lainnya masih bergantung pada air tangki.

"kondisi tersebut menunjukkan pola yang sama, yaitu debit sumber air yang semakin menurun dan pada beberapa lokasi telah kering. Memasuki September 2026 ini Kecamatan Semau berada pada kondisi yang perlu diwaspadai dalam menghadapi kekeringan dan penurunan ketersediaan air," ungkapnya.

Ia mengatakan dari kondisi yang ada diperlukan langkah antisipasi secara menyeluruh di seluruh desa, terutama pemantauan debit sumber air, penguatan cadangan air, serta penyiapan distribusi air tangki bagi wilayah yang sumber airnya tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

J
Reporter
Jermi Lau
J
Editor
Jermi Lau