NTT

Dua Imam Baru Paroki Buraen Disambut Sukacita Setelah Ditahbiskan di Cimahi, Bandung

Syafarul Amri | 31 Agustus 2026, 22:20 WIB
Dua Imam Baru Paroki Buraen Disambut Sukacita Setelah Ditahbiskan di Cimahi, Bandung
Umat menari menyambut Pater Felerianus Tapehen dan Pater Silvianus Tapehen di Paroki Buraen

AKURAT.CO - Dua putra asli Paroki Buraen, Pater Felerianus Tapehen dan Pater Silvianus Tapehen dari persaudaraan Ordo Agustinus Tak Berkasut baru saja ditahbiskan menjadi Imam di Paroki Cimahi Bandung oleh Uskup Bandung Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC pada Jumat 28 Agustus 2026.

Dua putra asal Buraen Keabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini ditahbiskan setelah menempuh perjalanan Imamat mereka sejak tahun 2013 lalu saat mendaftar pertama sebagai anggota persaudaraan Ordo OAD di Bandung.

Usai ditahbiskan mereka kembali ke kampung halaman untuk bersyukur bersama keluarga dan umat Paroki Buraen atas Rahmat yang mereka terima.

Mereka disambut meriah penuh sukacita begitu tiba di Kupang pada 31 Agustus 2026 bersama pimpinan Ordo. Mereka dijemput di Kota Kupang dan langsung menuju Paroki Buraen di Kecamatan Amarasi Selatan Kabupaten Kupang yang berjarak sekitar 70 kilometer dari Kota Kupang, ibukota provinsi NTT.

Keduanya disambut di Stasi Oesikam yang merupakan pintu masuk ke Paroki Santo Yohanes Pemandi Buraen.

Setelah rehat sejenak dan memberkati umat disana, keduanya kemudian diarak menuju pusat Paroki dan disambut secara adat lewat ucapan Natoni dan tarian Gong.

Dua putra asli Paroki Buraen ini membawa suasana haru, nampak umat dengan wajah haru dan penuh sukacita menyambut keduanya di depan pintu masuk gereja.

Sebagai ungkapan syukur, keduanya disambut dan dikenakan pakaian adat Amarasi sebagai simbol budaya yang tak bisa dilepaskan.

Pater Lerik mengungkapkan perjalanan panjang mereka berdua cukup panjang ini tak lepas dari campur tangan Tuhan dan juga dukungan dari keluarga.

Saat berangkat ke Bandung bulan Agustus tahun 2015 lalu, dirinya berangkat dengan berat hati meninggalkan keluarga untuk menatap jalan panggilan sebagai seorang Imam.

Meskipun dari pelosok selatan pulau Timor dan sudah menjadi yatim piatu sejak kecil namun tidak membuat jalan panggilan menjadi imam terhambat dan justru menjadi kekuatan untuk melangkah sampai mendapatkan Rahmat tahbisan imamatnya.

"Tahbisan itu bukan kebahagiaan bagi saya tetapi salib bagi saya, jadi kesempatan ini saya memohon doa dari pastor paroki dan kita semua untuk terus mendoakan kami karena sebagai manusia kami lemah dan rapuh," ungkap Pater Lerik.

Dia berharap kedepan dari tanah tempat mereka dilahirkan dan berasal ini terus melahirkan pelayan-pelayan Tuhan untuk bekerja melayani umat.

Sementara Pater Shil juga mengungkapkan hal senada. Kepada umat di Stasi Oesikam saat penjemputan keduanya saat tiba di Kupang Pater Silvianus menceritakan sedikit perjalanan panggilan menjadi imam.

Saat tiba di Paroki Buraen, dalam sapaanya dalam bahasa pembukanya ia hanya berkata "saya pulang ke rumah,"

Tak banyak berkata, ia hanya mengatakan kedatangannya ke kampung halaman ini bersama keluarga besarnya, Ordo Agustinus Tak Berkasut.

Setelah menerima tahbisan Imamat bersama saudaranya Pater Lerik di Bandung mereka harus kembali ke tempat asalnya untuk bersyukur bersama atas karya Tuhan atas diri mereka.

Panitia perayaan syukur kedua Imam Baru menyampaikan, Misa perdana untuk Pater Lerik akan berlangsung pada tanggal 1 September di kediaman orangtuanya, sementara syukuran untuk Pater Shil akan terjadi pada tanggal 4 September mendatang. (RT)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
J
Editor
Jermi Lau