Target Pendapatan NTT 2026 Turun 10,16 Persen Menjadi Rp4,98 Triliun

AKURAT.CO Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menurunkan target pendapatan daerah dalam rancangan perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2026 sebesar Rp 564,37 miliar. Penurunan tersebut setara 10,16 persen, dari target awal Rp 5,55 triliun menjadi Rp 4,98 triliun.
Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, menyampaikan perubahan target pendapatan itu disebabkan adanya penyesuaian pada sejumlah kelompok pendapatan daerah. “Target pendapatan daerah semula direncanakan sebesar Rp 5.552.331.028.374, berkurang sebesar Rp 564.377.434.208 atau turun 10,16 persen sehingga menjadi Rp 4.987.953.594.166,” kata Wakil Gubernur NTT saat menyampaikan rancangan perubahan APBD 2026 saat Rapat Paripurna ke-87 DPRD Provinsi NTT ke hadapan DPRD NTT, Senin (7/9/2026).
Menurut Wakil Gubernur Johni Asadoma, penurunan terbesar terjadi pada Pendapatan Asli Daerah (PAD).Target PAD yang sebelumnya ditetapkan Rp 2,733 triliun dikurangi Rp 633,06 miliar atau turun 23,16 persen.Dalam rancangan perubahan APBD, target PAD ditetapkan menjadi sekitar Rp 2,1 triliun.
Di sisi lain, pendapatan transfer justru mengalami kenaikan. Target pendapatan transfer bertambah Rp 23,31 miliar atau 0,83 persen, dari sekitar Rp 2,819 triliun menjadi Rp 2,842 triliun.
Pemprov NTT juga memasukkan tambahan pendapatan daerah yang sah sebesar Rp 45,36 miliar. Sebelumnya, pos pendapatan tersebut tidak direncanakan dalam APBD awal 2026. Selain pendapatan, Pemprov NTT juga mengusulkan penurunan belanja daerah dalam rancangan perubahan APBD 2026.
Belanja daerah yang semula direncanakan sekitar Rp 5,314 triliun turun Rp 277,36 miliar atau 5,22 persen menjadi sekitar Rp 5,036 triliun. Penurunan terutama terjadi pada belanja operasi. Anggaran belanja operasi dikurangi Rp 324,45 miliar atau 7,37 persen dari sekitar Rp 4,400 triliun.
Sementara itu, belanja modal justru meningkat Rp 19,42 miliar atau 9,78 persen, dari sekitar Rp 198,74 miliar menjadi sekitar Rp 218,17 miliar.Selanjutnya, Wakil Gubernur mengatakan, Pos yang mengalami kenaikan paling signifikan adalah belanja tidak terduga.
Anggarannya meningkat Rp 64,46 miliar atau 725,31 persen, dari sekitar Rp 8,88 miliar menjadi Rp 73,35 miliar.Kenaikan tersebut menjadi salah satu perubahan mencolok dalam rancangan perubahan APBD NTT 2026.
Adapun belanja transfer turun sekitar Rp 36,8 miliar menjadi sekitar Rp 669,46 miliar.Sebelum menyampaikan rancangan perubahan APBD, Pemprov NTT juga memaparkan realisasi APBD 2026 hingga 4 September 2026. Realisasi pendapatan daerah tercatat Rp 3,07 triliun atau 55,30 persen dari target awal sekitar Rp 5,55 triliun.Dari jumlah tersebut, realisasi PAD mencapai Rp 902,51 miliar atau 33,02 persen dari target awal Rp 2,733 triliun.
Sementara realisasi pendapatan transfer mencapai Rp 2,121 triliun atau 75,25 persen dari target sekitar Rp 2,819 triliun.Untuk belanja daerah, realisasinya mencapai Rp 2,813 triliun atau 52,94 persen dari rencana sekitar Rp 5,314 triliun.Realisasi belanja modal menjadi salah satu yang masih rendah, yakni Rp 16,86 miliar atau 8,48 persen dari rencana Rp 198,74 miliar.Sebaliknya, realisasi belanja tidak terduga telah mencapai Rp 23,57 miliar atau 265,24 persen dari pagu awal Rp 8,88 miliar.
Dalam paparannya, Pemprov NTT menyatakan terus berupaya meningkatkan kinerja realisasi anggaran dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia agar sejalan dengan pelayanan kepada masyarakat.
Rancangan perubahan APBD 2026 tersebut juga disusun dengan mempertimbangkan tindak lanjut hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas laporan keuangan Pemprov NTT tahun anggaran 2025 serta kebutuhan yang bersifat mengikat dan mendesak.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









