Sektor Pariwisata NTT Tumbuh, Kunjungan Wisatawan Naik Jadi 1,84 Juta

AKURAT.CO - Sektor Pariwisata Nusa Tenggara Timur (NTT) menunjukkan pertumbuhan positif. Jumlah kunjungan wisatawan meningkat dari 1,56 juta orang pada 2024 menjadi 1,84 juta orang pada 2025.
Gubernur NTT Melkiades Laka Lena mengatakan, pertumbuhan pariwisata menjadi bagian penting dari strategi pemerintah daerah untuk menjadikan sektor tersebut sebagai penggerak ekonomi lokal.
Hal itu disampaikan Melkiades saat menyampaikan pidato pembangunan Gubernur NTT di Aula Fernandez, Gedung Sasando, Kantor Gubernur NTT, Sabtu (15/8/2026).
“Wisata NTT, Penggerak Ekonomi Lokal,” menjadi tema Dasa Cita Ketiga yang diarahkan untuk memperkuat sektor pariwisata melalui pengembangan destinasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, promosi, penyelenggaraan event, serta kolaborasi dengan berbagai pihak.
Melkiades menyebut, dari total 1,84 juta wisatawan yang berkunjung pada 2025, lebih dari 472.000 merupakan wisatawan mancanegara, sedangkan sekitar 1,37 juta lainnya merupakan wisatawan nusantara.
Pertumbuhan juga terlihat dari rata-rata lama tinggal wisatawan yang meningkat dari 1,49 hari pada 2024 menjadi 1,67 hari pada 2025.
Meski demikian, pemerintah masih mendorong agar wisatawan tinggal lebih lama di NTT sehingga memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat, terutama melalui belanja produk dan jasa lokal. “Pariwisata merupakan sektor strategis yang menggerakkan ekonomi melalui kekayaan alam, budaya, dan ekonomi kreatif,” kata Melkiades dalam pidatonya.
Selanjutnya, dia mengatakan bahwa potensi pariwisata NTT cukup besar. Provinsi ini memiliki lebih dari 1.600 daya tarik wisata, lebih dari 300 destinasi bahari, dan 534 desa wisata.
Labuan Bajo juga menjadi salah satu Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) yang terus dikembangkan sebagai pintu masuk utama wisatawan ke NTT.
Pada 2025, sektor pariwisata tercatat memberikan kontribusi sebesar 7,71 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTT.
Untuk meningkatkan daya saing sektor tersebut, pemerintah memperkuat kualitas destinasi dan desa wisata, promosi digital, kalender kegiatan, serta berbagai event pariwisata.
Sejumlah kegiatan yang didorong antara lain Tour de NTT, Kupang Exotic Run, dan Tour de Timor. Promosi pariwisata NTT juga mengusung identitas “Discover the Dream in NTT: A Thousand Dreams, One Archipelago.”
Pemerintah turut memberikan pelatihan dan pendampingan kepada pelaku UMKM, pengelola desa wisata, kelompok sadar wisata (Pokdarwis), hingga pemandu wisata lokal.
Rehabilitasi sejumlah destinasi, termasuk Pantai Lasiana, juga dilakukan untuk meningkatkan kenyamanan wisatawan sekaligus mendorong peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Dari sisi kesiapan pelayanan, NTT pada 2026 memiliki 861 fasilitas akomodasi dan lebih dari 2.500 rumah makan.
Pengembangan pariwisata berbasis masyarakat juga mulai mendapatkan pengakuan di tingkat nasional dan internasional.
Empat desa wisata di NTT masuk dalam 15 besar Lomba Desa Wisata Nusantara 2025. Sementara itu, Kampung Prai Ijing di Kabupaten Sumba Barat meraih ASEAN Sustainable Tourism Awards 2026.
Sejumlah penggerak desa wisata NTT juga masuk dalam jajaran Pejuang Pariwisata Nasional.
Menurut Melkiades, pencapaian tersebut menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata tidak hanya bertumpu pada destinasi, tetapi juga pada kapasitas masyarakat sebagai pelaku utama ekonomi pariwisata.
Selain potensi alam, pemerintah juga menjadikan kekayaan budaya sebagai bagian penting dari pengembangan pariwisata NTT.
Hingga 2025, tercatat sebanyak 479 sanggar seni aktif di NTT. Kekayaan budaya tersebut mencakup ratusan tarian, musik dan lagu daerah, tenun ikat, arsitektur tradisional, rumah adat, situs megalitik, serta berbagai warisan budaya lainnya.
Pelestarian budaya dilakukan melalui pendokumentasian, revitalisasi rumah dan kampung adat, pelatihan seni dan kerajinan, pembelajaran berbasis kearifan lokal, penetapan Warisan Budaya Takbenda, serta penyelenggaraan festival dan berbagai pertunjukan seni.
Melkiades menegaskan, keberhasilan pariwisata tidak semata-mata diukur dari peningkatan jumlah kunjungan wisatawan.
Menurut dia, sektor pariwisata harus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, menjaga kelestarian lingkungan, sekaligus mempertahankan identitas budaya NTT. “Melalui destinasi berkualitas, masyarakat yang berdaya, dan budaya yang tetap hidup, pariwisata NTT kita dorong untuk menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan, dan memperkenalkan NTT kepada Indonesia dan dunia,” ujarnya.
Pidato pembangunan tersebut dihadiri Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma, Ketua DPRD NTT Emelia Nomleni, serta perwakilan pimpinan Forkopimda dan pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) lingkup Pemerintah Provinsi NTT.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Kunjungan ke Kabupaten Kupang, Kapolda dan Wakapolda NTT Tanam Pohon dan Tinjau Penyemaian Bibit Kelor
- 2Resmikan Delapan Titik Sumur Bor, Kapolda NTT Salurkan Bansos kepada Warga Kelurahan Belo
- 3Sengketa Pers Belum Tuntas, Wartawan Sudah Diperiksa Pidana; Kapolda NTT Didesak Copot Kapolres TTU
- 4Polda NTT Selidiki Dugaan TPPO di Hotel Sasando, Tujuh Mantan Pemandu Lagu Dimintai Keterangan
- 5Kapolda NTT Tekankan Pendampingan Pascagempa, Semangat Belajar Anak-Anak Jadi Perhatian
- 6Warga Kelurahan Belo Rasakan Manfaat Nyata Sumur Bor Bantuan Polda NTT, Pengeluaran Bulanan Air Bersih Anjlok Signifikan
- 7Polres Matim Kawal Penyaluran Bantuan PT Trinusa Resources dan CBP Group untuk Warga Terdampak Gempa di Kelurahan Kota Ndora
- 8Warga Kelurahan Belo Rasakan Manfaat Nyata Sumur Bor Bantuan Polda NTT, Pengeluaran Bulanan Air Bersih Anjlok Signifikan
- 9Sengketa Pers Belum Tuntas, Wartawan Sudah Diperiksa Pidana; Kapolda NTT Didesak Copot Kapolres TTU





